Meutya Hafid Serukan Pengunjuk Rasa untuk Menjaga Ketertiban di Ruang Digital

Pada era di mana komunikasi digital menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga ketertiban di ruang digital saat melakukan aksi demonstrasi. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada tanggal 15 Juni 2026, Meutya mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan dan kualitas interaksi di ruang digital, terutama saat menyampaikan aspirasi mereka.
Penghormatan Terhadap Hak Warga Negara
Meutya menekankan bahwa pemerintah sangat menghargai hak setiap individu untuk mengekspresikan pendapat di depan umum. Ini merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang harus dijunjung tinggi.
Dia menambahkan bahwa semua bentuk kritik, saran, dan aspirasi dari masyarakat adalah komponen esensial dalam sistem demokrasi. Masyarakat harus merasa didengar dan mendapatkan respons yang sesuai melalui mekanisme yang tepat.
Menjaga Ruang untuk Aspirasi
“Pemerintah senantiasa terbuka terhadap berbagai aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat. Menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara yang dilindungi oleh demokrasi. Oleh karena itu, ruang untuk mengemukakan aspirasi ini perlu kita jaga bersama,” ungkap Meutya.
Ia juga mengingatkan bahwa penyampaian aspirasi yang dilakukan dengan cara damai dapat menyampaikan pesan masyarakat secara lebih efektif dan dapat diterima dengan baik oleh publik luas.
Pentingnya Tindakan Damai
Meutya menggambarkan pentingnya menjaga situasi yang kondusif dan damai saat aksi massa berlangsung. Dia mengingatkan agar tidak terjadi tindakan anarkis yang dapat merugikan orang lain atau merusak fasilitas publik.
“Kritik itu boleh disampaikan dengan tegas, namun tetap harus dalam suasana damai. Jangan mudah terprovokasi hingga memicu kekerasan, perusakan, atau tindakan yang membahayakan masyarakat,” tegasnya.
Menjaga Kualitas Ruang Digital
Selain menjaga ketertiban di lapangan, Meutya juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga ketertiban di ruang digital saat aksi demonstrasi berlangsung. Penting untuk tidak mengunggah atau menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
- Hindari membagikan informasi yang tidak terverifikasi.
- Jangan menyebarkan ajakan yang berpotensi menimbulkan kekerasan.
- Elakkan provokasi yang dapat memperburuk kondisi.
- Periksa sumber informasi sebelum membagikannya.
- Pahami konteks informasi yang diterima.
Waspada Terhadap Ilusi Algoritma
Meutya juga mengingatkan masyarakat untuk menyadari adanya efek ilusi algoritma di media sosial. Menurutnya, konten yang muncul di linimasa pengguna tidak selalu mencerminkan realitas secara keseluruhan.
Hal ini bisa terjadi karena algoritma yang memperkuat pola interaksi, minat, atau emosi sementara dari pengguna. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis terhadap informasi yang mereka terima.
Memahami Konteks Informasi
“Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan. Ilusi algoritma dapat membuat kita merasa seolah-olah semua orang sedang marah atau setuju dengan tindakan kekerasan,” pesan Meutya.
Dia menegaskan pentingnya memeriksa informasi dari berbagai sumber, memahami konteks, dan tidak mudah terprovokasi oleh apa yang terlihat di media sosial.
Perlunya Menghindari Hoaks dan Disinformasi
Sebagai langkah terakhir, Meutya kembali mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap peredaran hoaks, disinformasi, dan manipulasi informasi yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
“Ruang digital seharusnya tidak menjadi tempat untuk memperbesar provokasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi harus dihindari,” tambahnya.
Meutya mengajak semua pihak untuk menjaga agar aspirasi masyarakat tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab. Dengan cara ini, ruang digital bisa menjadi tempat yang positif untuk diskusi dan pertukaran pikiran.






