Syattariyah dan Madilog: Transformasi Pemikiran dalam Perspektif PPO yang Relevan

Diskusi mengenai keterkaitan antara tasawuf dan revolusi kembali mendapatkan perhatian di sebuah ruang sederhana di Mande Tanjung Manggu. Dalam suasana yang intim, sejumlah pengunjung berkumpul, menyaksikan percakapan yang menarik antara Ketua PPO (Persatuan Pesantren Ortodok), Haji Duleh, dan edukator Islami PPO, Andi Ali Fikri.
Menelusuri Hubungan Syattariyah dan Madilog
Kedua tokoh tersebut memulai dengan sebuah pertanyaan penting: benarkah Tan Malaka, melalui karya Madilog, mengadopsi elemen-elemen dari tradisi Tarekat Syattariyah? Pertanyaan ini membuka diskusi yang lebih dalam mengenai pemikiran dan pengaruh tasawuf dalam konteks perjuangan sosial.
Membongkar Dikotomi: Tasawuf vs Revolusi
Haji Duleh memulai diskusi dengan nada yang tegas, menolak pandangan yang memisahkan tasawuf dari perjuangan sosial. Ia mengamati bahwa banyak orang keliru dalam memahami tasawuf karena hanya fokus pada aspek ritualnya saja.
“Banyak orang berpikir bahwa tasawuf hanya berkaitan dengan wirid dan praktik uzlah. Padahal, Tarekat Syattariyah melatih individu untuk menundukkan nafsu dengan serius. Proses ini justru mempersiapkan seseorang dalam menghadapi tantangan dunia,” ujarnya pada Kamis, 14 Mei 2026.
Lebih lanjut, Haji Duleh menekankan bahwa tasawuf tidak mengajarkan untuk melarikan diri dari kenyataan. Sebaliknya, tasawuf membentuk mental yang kuat untuk mengatasi ketidakadilan dan tekanan sosial yang ada di sekeliling kita.
Madilog dan Rasionalitas Tauhid
Andi Ali Fikri segera memperkuat pernyataan Haji Duleh dengan menekankan pentingnya rasionalitas dalam Islam. Ia mengkritik pandangan yang mencoba memisahkan iman dari akal, yang dinilainya sebagai kesalahan besar dalam memahami pemikiran Tan Malaka.
“Madilog lahir dari sebuah ekosistem spiritual yang kokoh,” jelas Andi. Ia menegaskan bahwa Tan Malaka tidak pernah menolak keberadaan Tuhan, melainkan menolak takhayul yang tidak berdasar. “Banyak orang salah paham dalam membaca sikap Tan Malaka,” tambahnya.
Andi menjelaskan bahwa kritik Tan Malaka terhadap ‘logika mistik’ sebenarnya sejalan dengan prinsip tauhid. Dalam Tarekat Syattariyah, akal berfungsi sebagai alat utama untuk membersihkan keyakinan dari praktik syirik yang mungkin tersembunyi.
“Ketika Tan Malaka menghancurkan logika mistik, ia melakukan proses purifikasi, yang sejalan dengan konsep La ilaha,” tegasnya, menyoroti pentingnya pemikiran kritis dalam tasawuf yang berkaitan dengan keimanan.
Asketisme Revolusioner: Laku Hidup Tan Malaka
Haji Duleh kemudian membawa pembahasan ke dimensi praksis, mengarahkan perhatian pada kehidupan disiplin yang dijalani oleh Tan Malaka. Ia mencatat bahwa Tan Malaka menjalani hidup yang penuh dengan pengorbanan dan dedikasi.
Tan Malaka memilih untuk berpindah-pindah, menolak kenyamanan, serta menghindari kemewahan. Ia bahkan memutuskan untuk tidak membangun kehidupan keluarga demi fokus pada perjuangan yang lebih besar.
- Tan Malaka menjalani hidup berpindah-pindah, menghindari kenyamanan.
- Ia menolak kemewahan untuk fokus pada perjuangan.
- Mengorbankan kehidupan keluarga demi tujuan yang lebih besar.
- Disiplin dan pengorbanan menjadi bagian integral dari kehidupannya.
- Menjalani laku hidup yang mencerminkan komitmen revolusioner.
Dengan sikap dan laku hidup yang demikian, Tan Malaka menunjukkan bahwa tasawuf bukanlah pelarian dari dunia, melainkan sebuah jalan untuk memperkuat tekad dan semangat dalam menghadapi tantangan sosial yang ada.
Diskusi yang terjadi di Mande Tanjung Manggu ini tidak hanya menggugah pemikiran, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan kembali pemahaman kita tentang hubungan antara spiritualitas dan perjuangan sosial. Melalui laku hidup dan pemikiran Tan Malaka, kita diajak untuk melihat bahwa tasawuf dan revolusi dapat berjalan beriringan, saling menguatkan dalam menghadapi ketidakadilan dan tantangan zaman.